Rabu, 05 Mei 2010

Janji yang sulit sekali untuk ditebus tapi harus

Apa lagi yang diocehkan Pak Djalal ini? Saat ini aku benar-banar sedang tak bisa diajak berdamai. Napas ku masih ngap-ngapan ditingkahi jantung yang berdetak terburu-buru. Tadi aku tertinggal oleh teman-teman ku bersepeda. Kami bersepeda menuju rumah Pak Djalal di Jl Lestari agak dalam sedikit. Pak Djalal memberi sedikit les tambahan di bidang matematika supaya murid-mudidnya makin siap menghadapi ujian akhir. Hebat benar orang tua itu, dia sebenarnya guru agama tapi tak disangka juga piawai mengajar ilmu berhitung.
Seperti biasa sore ini kami berkumpul dulu di sekolah kami, SDN 01 Cijantung pagi, lalu beramai-ramai menuju rumah guru agama–matematika itu dengan sepeda masing-masing. Dengan status yang sudah kelas enam ini seharusnya kami memang mengendarai sepeda buat anak kelas enam, sepeda yang agak tinggi seperti sepeda gunung atau sepeda BMX yang bisa buat atraksi. Hanya aku, ya hanya aku yang masih mengendarai sepeda kecil, sepeda yang sama yang aku dapatkan saat TK dulu. Sepeda roda empat–ada dua tambahan roda kecil di pelek belakang–yang tak lain adalah sepeda pertama ku. Kendaraan yang aku pakai untuk belajar berkendara. Tentu saja agak memalukan dan sebagai sepeda mini tentu aku takkan sanggup jangankan untuk membalap sepeda teman-temanku, bahkan untuk menyusul mereka saja mustahil.
Saat memasuki gapura Jl. Lestari teman-teman ku itu berhenti sejenak demi menunggu ku. Ada mungkin lima belas menit kemudian mereka baru bisa melihat aku yang tergopoh-gopoh mengayuh sepeda bermerek Lion itu di kejauhan. Demi melihat aku lalu mereka langsung ramai-ramai kembali ke sepeda masing-masing dan tancap gas lagi meninggalkan ku sambil tertawa puas. Kiranya mereka hanya ingin melihat wajah menyedihkan ku keletihan menyusul mereka. Aku hanya disisakan debu. Menyebalkan !
Sesampai di rumah Pak Djalal, sepeda-sepeda brengsek itu sudah terpakir rapih di beranda. Aku tak banyak membuang waktu hanya menggelatakkan si Lion itu begitu saja dan segera berlari ke lantai atas ruang kelas les kami. Begitu melihat batang hidung ku yang mancung ini Pak Djalal langsung mendamprat ku karena hanya aku yang telat. Aku jadi tak fokus dengan pelajaran yang disampaikan Pak Djalal sore itu.
Biar kata bukan kegiatan belajar mengajar konvensional, les tambahan dari Pak Djalal ini juga ada jam istirahatnya lho. Saat istirahat kami biasanya jalan-jalan ke bukit-bukit dibelakang rumah si bapak. Bukit-bukit itu biasa dipakai sebagai area latihan Kopasus, namun saat absent latihan jadilah wilayah itu menjadi taman bermain bagi anak-anak kampung. Ada yang main layangan, melepas burung dara, ada yang bermain bola, ada juga yang ber motocross ria dengan sepeda seperti kami. Anehnya, walau sepedaku yang paling menyedihkan diantara sepeda-sepeda lain di armada kami dan teman-teman ku selalu bersemangat untuk mengata-ngatai nya, yah koq cuma sepeda ku yang selalu jadi rebutan untuk ber motocross ria, bukannya BMX-BMX itu yang sering diklaim sepeda yang pas buat aksi, ngetril sana ngetril sini, atau sepeda gunung itu yang selalu digadang-gadangkan jangankan bukit-bukit rendah itu, gunung pun mampu digagahinya ya sesuai namanya, sepeda gunung. Sepeda ku dipinjam bergantian oleh para begundal itu bahkan aku saja tak kebagian giliran. Dan yang paling menyebalkan, sudahlah mereka perkosa asal-asalan, sepeda ku tetap saja mereka hina. Keterlaluan sekali !!
Sepulangnya aku menggenjot sepeda dengan hati hancur. Tak cuma sekali aku dan sepedaku diperlakukan se-enaknya seperti ini. Tak selayaknya anak seusia ku harus menahan sabar seperti itu. Aku jarang merengek-rengek meminta ini itu kepada orangtuaku tapi aku rasa kali ini aku berhak untuk menagih mereka. Aku muak dihina-dina seperti itu. Esok sore aku mencoba dekati papa. Mendekati beliau seperti mendekati presiden, harus hati-hati dan menjaga sikap. Setiap minggu sore papa biasa bersantai di ruang tamu sambil membaca buku atau koran, ditemani segelas kopi hitam. Suasana seperti itu pasti membuatnya sangat relax, maka aku rasa beliau takkan marah kalau aku ganggu sedikit. Lalu segera saja aku utarakan maksudku padanya agar dibelikan sepeda baru, sepeda yang agak besar yang cocok dengan ku.
“Bukannya Papa gak mikirin itu Sayang, tapi kan bisa nanti kalau ada duitnya..”
Beberapa hari kemudian aku meminta lagi dan jawabannya kurang lebih sama. Minggu depannya aku mengkonfirmasi perihal proposal sepeda baru maka jawabannya tak beda cuma sekarang dengan nada agak terganggu.
“ehm...baiklah !!”
Maka sejak itu sampai saat ini, kalau tidak terlalu mendesak sekali, aku takkan pernah meminta apapun pada orangtua! Aku tidak lagi memikirkan tentang si sepeda, biarlah aku jadi bahan hinaan di sekolah dari pada harus dicoret dari kartu keluarga. Namun sampai di suatu sore yang syahdu aku menemukan sebuah sepeda terparkir angkuh di depan sebuah bengkel. Dia memang barang bekas saja tak terlalu tinggi seperti sepeda gunung, mirip BMX cuma ya KW delapan belas lah.
“Lima puluh ribu aja nih Tong! Keren kan !” promosi si abang bengkel. Wah aku tergiur sekali cuma tersedak saat mendengar harganya. Lima puluh ribu itu bukan uang sedikit buat anak sekecil ku, tak pernah aku mengantonginya. Kalau aku menabung, itu berarti tak jajan di sekolah selama hampir dua bulan. Si sepeda sesekali saja melirik ku lalu kembali mendongak tak perduli.
“Kau kira murah mendapatkan ku dasar anak udik !!
Sepanjang jalan pulang aku berpikir keras bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu. Kalaupun harus menabung si sepeda pasti sudah lama terjual saat uangnya terkumpul. Apa aku harus pinjam ke BANK? Ehm…tapi apa nanti tak ditertawakan??
Setibanya di rumah ku dapati semua orang sedang pergi. Adik-adikku mungkin sedang mengaji. Mama mungkin sedang main ke rumah tetangga dan papa sudah pasti masih ngantor. Tiba-tiba aku mematung melihat tas mama di atas meja makan. Resletingnya terbuka. Pasti dompet mama ada di dalamnya dan pasti juga ada selembar limapuluh ribu terselip disana.
“Lalu memangnya kenapa??”
“yah gak kenapa-napa. Cuma kan katanya lagi butuh duit kertas bergambar wajah Pak Presiden itu..”
“Yah kan harus minta Mama dulu..”
“emang bakal dikasih??”
“yah..enggak bakalan juga sih..”
“mending ambil dulu. Nanti kalau udah jadi sepeda itu duit, baru bilang. Jadikan mau tak mau yah Mama harus nerima..gimana??”
“tuh namanya nyuri dong…dosa mencuri tuh berganjar menginap di neraka sampai karatan !!”
“ah itu kan teori…kan bisa taubat. Asal kau tau yah, Tuhan itu Maha Pengasih !!”
“ehm…”
“Lagian kan kau masih kecil, belum baligh dan masih dibawah umur. Dosamu belum diperhitungkan, polisi saja tak bisa menindak mu.”
Aku berlari secepat mungkin menuju bengkel tadi. Selembar lima puluh ribu terselip pasrah di kantong celanaku dan tak lama kemudian BMX kodian yang durjana itu pun tahluk di bawah otak kriminalku. Dia manggut saja aku tunggangi.
“Hah…mana lagak mu tadi sepeda sombong? Sekarang siapa yang udik??” aku tertawa menang dan si sepeda diam saja menyesali dosa yang baru saja ku perbuat.
“…sepeda siapa Nja?” tanya adikku yang baru pulang mengaji.
“..sepeda temen..” jawabku cuek.
Seminggu sudah dan si sepeda masih nangkring di teras rumah. Aku mulai malas mengendarainya. Perasaan bersalah selalu meneror ku sejak hari itu. Orang rumah juga mulai bertanya-tanya. Mana ada anak SD meminjamkan temannya sepeda sampai seminggu? Papa mama juga mulai curiga berhubung mereka baru kehilangan lima puluh ribu dan tak tahu raib kemana.
Layaknya di magrib-magrib sebelumnya, Mama membaca Al-Quran tiap habis shalat. Seperti selalu, bila beliau mengaji, lekukan tajwidnya yang terlatih itu akan membuat semua terdiam. Apa yang sedang dikerjakan dihentikan. Apa yang sedang dipegang dilepaskan.
Seusai mengaji beliau memanggil ku. Tak seperti biasanya kali ini wajahnya serius. Aku duduk di sampingnya, pundak kiriku digenggamnya dengan kuat. Tatapannya membuat ku jadi serba tak enak. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia sedang menyelidiki sesuatu. Beliau pasti sudah menyadari kalau anak lelaki pertamanya ini sudah tak lugu lagi. Bisikan shaitan sudah bekerja di otak kecil anak ini.
“Uja tahu? Mama punya teman yang mengajinya lebih faseh dari Mama. Dia sakti. Dia bisa menerawang kejadian-kejadian yang lalu. Dia menyaksikannya dari halaman-halaman Al-Quran ini. Mama berencana menanyakan soal hilangnya uang Mama yang lima puluh ribu itu.” dadaku berat.
“…sebenarnya Mama udah ikhlas-in uang itu tapi Mama penasaran. Apa lagi setiap ngeliat sepeda teman Uja itu… Mama hanya takut kalau-kalau apa yang dilihat teman Mama itu nanti mengecewakan Mama..” sekarang jantungku yang berat.
“Apa ada yang mau Uja bilang ke Mama soal sepeda itu?...”
Tiba-tiba ini menjadi magrib terpanjang yang pernah ku alami. Aku berharap azan isya cepat-cepat berkumandang supaya pertanyaan itu tak perlu ku jawab.
Tatapan Mama makin lekat menjebak ku. Berkali-kali aku buang muka tak berhasil. Perasaan bersalah makin leluasa meneror ku memompa seluruh air di tubuhku menuju kantong mata dan aku mulai menangis. Tubuhku bergetar di hadapan Mama dan aku paksakan lidahku yang kelu untuk mulai bicara. Aku akui semuanya, aku ceritakan semuanya dan raut wajah Mama tak berubah, tatapannya makin tajam.
“Maafin Uja Ma, Uja nyesel…”
Mendengarnya, senyum Mama terbit. Beliau memelukku erat-erat.
“iya Mama maafin. Mama seneng Uja mengakuinya dan minta maaf. Mama harap Uja ngerti kesalahan Uja dan gak bakal mengulanginya lagi. Dosa...” aku terisak-isak mendengarnya.
“Mama udah ikhlas-in lima puluh ribunya. Lagian itu juga buat sepeda Uja juga kan. Mama gak bakal cerita ke siapa-siapa. Ini semua kita aja yang tahu. Maafin Mama yang gak juga beliin sepeda baru buat Uja padahal Uja udah lama minta. Maafin Mama..”
Aku tak mampu berkata-kata lagi. Semua ini cukup untuk membuat tubuhku lunglai. Semua persendian terasa copot, aku bagai tak bertulang. Tubuhku letih dan pasrah di pelukan mamaku. Air mata ini melarutkan semua kebodohan-kebodohanku yang telah mengecewakan orang yang paling aku cintai, orang yang paling mencintai dan mengerti aku. Maafkan aku Ma, Uja akan berusaha tak akan kecewakan Mama lagi. Janji yang sulit sekali untuk ditebus tapi harus.

Selasa, 20 April 2010

The Greatest Conquerors from the Ancient World

Our world history has been written with blood that a civilization conquered others. Human mankind has always tried hard to expand their authority for religion, economy, politics, even honor. Most of the conquests were done regionally. However, some of them happened wider. Although the conquests were done locally, they influenced globally and even changed the world history. Some of the influences even remain until now.

After the imperialism when the western countries colonized the world, most of us have believed that western world is the super power and they had done more in the history than other civilizations did. We have heard about the great conquerors from the western such as Hitler, Napoleon, and Hernando Cortez. If we try to look back to the era before the colonialism or even before the renaissance, we will see how the world history was also played by the eastern civilizations. To prove it we’re going to see the top five of the greatest conquerors from the ancient time.

What we see as China today was actually several small states before they were united by Qin. He conquered the Zhou territory and the rest of China. Qin Shihuangdi was a powerful emperor whose empire was never wiped out and lasted for 2000 years. He centralized the control of China and standardized law, economy, and writing system. He even imposed censorship to the opposition ideas. In order to defend his empire from the north nomads, Qin also ordered the big project of the Great Wall of China. It still stands today as a monument to Qin’s ambition and to peasants who carried out their emperor’s will (M. Farah & A. Karls, 1999). China is a big united country and has been holding the important roles in the world history. The united China was a great work of Qin Shihuangdi by 221 B.C. rewarding Qin the fifth of the greatest conquerors.

United China’s flourishing civilization was a great part of the world history. However, the conquest Qin did didn’t influence global change of the world directly. The fourth of the greatest conquerors comes to a Turkey sultan, Mehmed II, the conquest of whom immediately influenced the movement of the world history. This young sultan conquered the superpower civilization at that time, the Byzantine Empire. The people of the Constantinople were to watch from Hagia Sophia the troops of the Ottoman dragging warships on wheeled platform up and over the hills of Pera and down into the Golden Horn to bypass the huge iron chain barred in the mouth of Golden Horn. The huge cannons attack eventually
led Constantinople to the fall (Hagia Sophia, 1989). The fall of this important city on May 29, 1453, closed the way to Asia for the western. It forced Europeans to find other routes through water to get to Asia just like what were done by Vasco da Gamma and Columbus who then found the new land of America. This finally led to the colonization by the western over the world.

What was done by Sultan Mehmed II really influenced the change of the world history. However, the area the sultan conquered will look very small compared to what was done by a Mongol king, Genghis Khan, our third conqueror in this list. Having united scattered clans of Mongol under one government, a Mongol leader, Temujin, was rewarded a new name of Genghis Khan or ‘Universal Ruler’. He then set out to create a large empire with military campaigns over the world. Followed by the most skilled fighting force in the world at the time (Farah & Karls, 1999), the khan conquered Turks and China by A.D 1211. After his death, his successors continued the conquest to Middle East and Europe. The Conquest to Middle East and the destruction of Baghdad represented a major set back to Islamic civilization.

Maybe Genghis Khan and his Mongol successors had conquered the largest area of the earth. His name was so famous today but there was a name of a conqueror which had inspired the world since the ancient time. He was Alexander the Great. He succeeded his murdered father when he was only 20. He was highly respected by his soldiers for his courage and military skill and extremely well educated, for his father had him tutored by Aristotle (Farah & Karls, 1999). He set out to challenge the Persian control over the Ionian cities and ended up with an empire that for the first time linked western and central Asia (G. Leick, 1999). Next, he captured Egypt where he founded port of Alexandria in the Nile delta by 332 B.C. Before his death Alexander had controlled over Greek, Asia Minor, Egypt, Palestine, Persia, and India. This achievement belongs to legend as much as to history (C. Brinton, 1984). Alexander the Great, the emperor of Macedonia, deserves of the second place in this list.

Finally we come to the greatest conqueror ever in the world civilization history, the Prophet Muhammad SAW. He was born in Mecca around A.D 570. During his teens, Muhammad SAW worked as an honest caravan leader on a trade route in Arabian Peninsula. In A.D 610, he experienced a revelation calling him to be an apostle of God and then he began to preach in Mecca. The opposition to Islam forced him to depart to Yathrib where he then got more followers. Yathrib accepted him as a God’s prophet and their ruler. He was skilled political as well as religious leader (Farah & Karls, 1999). He was successful in both (Michael Hart, 1978). In Yathrib (Madinah), Muhammad laid the foundation of an Islamic State. After several wars between Mecca and Yathrib, eventually the Mecca invaded the Prophet city. Muslim won the battle and in A.D 630, Muhammad SAW entered Mecca as a conqueror. The Mecca citizens then accepted Islam. Two years later in A.D 632 when Muhammad SAW died, most of Arabians had become Muslims.


Under his successors, like Umar ibn Khattab, Syria, Palestine, Persia, and Egypt were conquered almost simultaneously in the further years. In A.D 698 the Muslims took over North Africa after attacking Italy and conquered the native barber tribes in the Central Africa who had resisted Romans so far. In 711, under the command of Tariq, they invaded Spain across the straits of Gibraltar, ‘The Rock of Tariq’. By 725, Muslims expansion was stopped by France in Tours, meanwhile Islam had been spreading from Spain, North Africa, Egypt, Palestine, Syria, Persia, to the Indus River and the west frontiers of China. These conquests on the first century of Islam were virtually final. Only the Mediterranean Islands and Spain were re-conquered by Christians (C. Brighton). The Islam it self then was spreading even to the south East Asia.


Arabian united by the Prophet is not as large as China united by Qin. The Prophet didn’t conquer the land as wide as what Genghis Khan did. His name as a conqueror might not be as legendary as Alexander the Great. However, there’s no doubt that Muhammad SAW had influenced the most to the world civilization history. What had been conquered by Alexander and Genghis Khan didn’t last forever as the area of Greek and Mongol is not wider than that before they were born. Most of what Muhammad SAW and his successors conquered still survives till now and maybe the more important left, Muhammad’s teaching of Islam, will last forever. The Prophet Muhammad SAW had changed the world civilization history and influenced the life of his followers.


We have seen the top five of the greatest conquerors in the history of the ancient world. Four of them come from the eastern and in the top rank seats an Arabian which at the time was considered as the uncivilized compared to the neighbors such as Byzantine Roman and Persian. It shows us that the eastern which is reputed as the third world by the western had ever played the important role in the world civilization history. Every civilization, not only Europeans, is able to change the world. In this modern era, we may resist physics conquest to other countries; however, we still can conquer the world in economy, politics, culture, and science.


Brighton. C, (1984), The History of Civilization, New Jersey: Pretice Hall

Farah. M, Karls. A, (1999), World History: The Human Experiences, New York: Glencoe Hagia Sophia (1989) Istanbul: Turizm Yayinlari

Leick, G, (1999) Who’s Who in the Ancient Near East, London: Routledge

Mc Graw Hills


Minggu, 18 April 2010

Jangan Main Tulis Saja

Salah seorang kawan menyarankan bahwa dalam sebuah blog itu harus ada perkenalannya dulu, jangan main tulis saja seperti yang sudah ku lakukan. Baiklah, kita mulai dari perkenalan diri saya.

Nama saya…ehm, nanti juga kalian tahu.

Tempat tanggal lahir,…sudah lupa.

Umur,…ah tak penting lah.

Alamat,…ada lah pokoknya.

Status,…itu bukan urusan kalian !!

Berat dan tinggi,…kurang ajar betul ! Itu privasi saya, ada urusan apa tanya-tanya??

Oke, perkenalan diri selesai. Eh, tunggu ! Pekerjaan ! Hehe..iya aku hampir lupa. Aku saat ini masih berpangkat mahasiswa di sebuah Universitas Negeri di Jakarta.

Terus apa lagi? Oya, kesukaan !! Warna kesukaan, apa saja ! Karena aku ini berkulit putih langsat jadi cocok saja dengan warna apa pun juga. Hahaha…

Makanan kesukaan…meminjam istilah Trinity, bagi saya hanya ada dua jenis makanan: makanan enak, dan makanan enak sekali !! Tapi saya sangat doyan soto betawi terutama Soto Jakarta yang di Rawamangun itu lho. Boleh kalau pada mau traktir.

Hal yang paling disukai, ehm…mungkin dari hal yang paling dibenci dulu kali yah. Aku paling benci sama anak yang durhaka sama orang tua. Sering ngebantah atau bahkan membentak orangtuanya sendiri. Kerjaannya marah-marah terus seakan-akan apa yang telah dilakukan orangtua padanya tak pernah cukup. Seakan-akan dia sudah bisa membalas jasa mereka. Seakan-akan dia telah menumpuk emas setinggi gunung untuk ayahnya dan telah menggendong ibunya, jalan kaki sampai Mekah agar si ibu bisa naik haji. Seakan-akan ayah dan ibunya mengganggu saja kerjanya.

Walau aku dulu bandel sama orangtua, tapi seiring tumbuh dewasa aku makin jarang minta ini itu. Tak pernah intonasi suara lebih tinggi bila berhadapan dengan mereka. Tak pernah menggunakan kata ganti ‘aku, ‘saya’, atau malah ‘gue’ sama orang tua. Selalu patuh dan tak pernah membantah petuah dan perintah mereka. Selalu bersikap sesuai tuntunan agama, pancasila, dan dasasila pramuka. Tapi saat Mama telah tiada dan Papa pindah ke pulau seberang, aku selalu menyesali kurangnya baktiku pada mereka. Selalu merindukan saat-saat bersama mereka. Jadi kawan, aku harap jangan kalian sia-siakan orangtua mu dan saat-saat indah bersama mereka. Karena orang-orang yang kita cintai baru akan terasa sangat berarti saat mereka telah pergi. Jangan sampai kalian baru menyesal saat mereka tiada, atau malah kalian duluan yang tiada. Karena setiap kebersamaan akan selalu diakhiri dengan perpisahan.

Hal yang paling aku sukai…yah kehidupan ini dengan segala dinamika dan warna-warninya. Menurut ku, dunia yang fana ini lebih menarik dari pada surga, mau tahu kenapa? Karena di dunia ini kita merasakan bahagia dan sedih, manis dan pahit, tenang dan takut. Di dunia ini lah kita mencintai dan dicintai dengan tulus. Dan bagian yang paling menarik dari kehidupan adalah perjuangan. Aku kurang tertarik dengan kehidupan yang tahu-tahu bahagia dan mapan di awal. Ujug-ujug kaya tanpa perjuangan. Aku bersyukur merasakan pedihnya dihina karena tak berpunya, wan prestasi, dan tak rupawan. Mengalami jatuh bangun, berkali-kali salah dan gagal. Menjadi pecundang diantara gerombolan pecundang tidaklah menarik. Tapi menjadi si miskin diantara mereka yang menengah ke atas, itu baru menantang. Dipandang sebelah mata membuat aku penasaran ingin berhasil. Dan andaikan nanti semua impian terwujud, saat bahkan kedua mata mereka tak cukup untuk takjub padaku, aku akan dengan senang hati mengecap manisnya kemenangan. Ini bukan dendam, tapi pembuktian. Karena itulah esensi dari hidup, yakni perjuangan.

Pada hakikatnya hidup setiap manusia itu sangatlah menarik dan layak dituangkan dalam novel-novel atau filem seperti tetralogi Laskar Pelangi. . Di zaman internet seperti sekarang, orang-orang bahkan dengan mudah menceritakan pengalaman kesehariannya di blog seperti yang dilakukan Raditya Dika dan Trinity. Dasar latah, aku jadi ikut-ikutan membual dalam diary elektronik semacam ini. Beberapa teman sudah membaca-baca blog ku. Ada yang bilang konsep dari blog ini adalah ide bagus. Ada yang memuji gaya penulisan ku yang baku namun mengalir dengan indahnya. Dia bahkan bilang kalau aku ini berbakat jadi penulis lho. Hehe… Ada juga yang mengkritik bahwa tulisannya kebanyakan, jadi males bacanya. Ada yang mengkritisi kata ganti ‘aku’ yang digunakan. Ehm…menurutku itu yang paling pas. Kalau ‘saya’, terlalu formal. Kalau ‘gue’, terlalu informal. Kalau ‘Eke’ nanti disangaka transgender. ‘Aku’ lebih terdengar akrab dan sangat sastra. Dan kenapa bahasa yang ku pakai terkesan baku, yah karena aku ingin menyelamatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pada akhirnya aku ucapkan banyak terima kasih sudah rela membaca blog ku yang masih sedikit ini. Semoga anda-anda tidak bosan untuk terus membacanya, dan tidak menyesal telah membuang-buang waktunya menyimak bualan-bualan dari Sang Pembual.

Jumat, 09 April 2010

Terinspirasi 'nguping jakarta'

Aku sudah meng-email ketiga dialog ini ke blog nguping jakarta yang kocak itu tapi belum juga ditampilkan. Berhubung sudah kebelet ingin menampilkan dialog-dialog yang absurd ini, ya jadinya aku tampilkan disini saja lah..

Apa pun yang terjadi yang penting jualan

Seorang tukang roti baru saja menjadi korban tabrak lari. Beliau baik-baik saja tapi roti-roti dari gerobaknya berhamburan di jalan. Tak lama berselang seorang polisi datang ke TKP.

Polisi: "Ada apa nih pak ??"
Tukang Roti: "Ini lho pak, ada roti keju, roti coklat, kelapa, dan kombinasi..."

Didengar oleh saksi mata yang merasa menyesal menolong si tukang roti ngediriin gerobaknya yang terguling... (thanks to Bayu for the joke)


Oh..gue kira gak dijual

Beberapa karyawan sedang makan siang di sebuah rumah makan.

Karyawan #1: "Jus jeruk ama es jeruk..apa bedanya yah??"
Karyawan #2: "yah..paling beda seribu.."

Didengar oleh manajemen rumah makan yang merasa orang ini layak untuk meneruskan usahanya..
(thanks to Bayu for the joke)


Pergaulan bebas masa kini memang sudah keterlaluan

Seorang cewek ABG sedang menunggu temannya sampai kering di Mall. Lalu ia menelepon temannya itu.

Cewek #1: "Eh Lo dah dimana seh lama banget??"
Cewek #2: "Sory..nih gue lagi nunggingin cowok gue...eh, nungguin !!"

Didenger si cewek #1 yang merasa yang keceplosan itulah yang justru menceritakan keadaan sebenarnya...

Senin, 29 Maret 2010

Saat Misteri Bertabrakan Dengan Sains (Jangan dibaca sendiri...)

Baru saja aku menonton sebuah acara dokumenter di National Geography berjudul Is it real? yang mengangkat tema misteri ghost dan circle crops. Keren sekali semboyannya “saat misteri bertabrakan dengan sains”. Meski pendapat para believers dan skeptics dimunculkan bahkan diadu secara seimbang di awal, namun di akhir acara tetap saja dibuktikan secara ilmiah kalau hantu dan lingkaran misterius di ladang itu hanyalah omong kosong belaka. Lalu acara ditutup dengan pernyataan terakhir si skeptic yang menghimbau dengan nada skeptisnya kepada para penggila dunia paranormal untuk lebih mencari dan melakukan hal-hal yang lebih berguna daripada cuma melakukan ritual-ritual aneh atau perburuan bukti-bukti gaib saperti penampakan misalnya.
Aku setuju saja. Aku termasuk orang yang lebih berpihak pada logika dan tak mau ambil pusing dengan hal-hal yang berbau mistis, misterius, gaib, atau diluar kewajaran. Semua itu tak penting, seperti kata si skeptic, masih banyak hal yang lebih berguna dan masuk akal untuk dilakukan dan dipikirkan. Namun bagaimana bila ketidakwajaran itu dan kadang juga menyeramkan menimpa anda? Kemana aku harus mengadu saat aku sendiri yang mengalaminya??
Saat itu sore yang biasa. Siangnya aku tertidur pulas di ruang tengah dan Mama tidur di kamar. Tadi pagi adikku diajak pamanku jalan-jalan dan belum pulang. Adikku yang satu lagi keluyuran entah kemana. Papaku memang tak lagi di Jakarta. Beliau mendapat perkerjaan baru di kampung halamannya dan sekali dua bulan balik ke Jakarta mengunjungi kami.
Tiba-tiba aku terbangunkan oleh ketukan pintu yang lumayan kencang. Dengan mata yang masih setengah terbuka, aku periksa siapa yang datang. Ada orang tampak dari jendela berdiri di depan pintu ruang tamu. Ia berhenti mengetuk setelah melihat aku terbangun. Dengan sangat berat aku bangkit untuk membukakan pintu buat si tamu.
“Kurang ajar betul orang ini. Datang-datang bukannya memberi salam atau “permisi” kek gitu, malah main gedar-gedor aja, gak tau orang lagi tidur apa??” aku gusar dalam hati. Mungkin karena nyawa yang masih belum terkumpul aku jadi malas untuk menanyakan siapa gerangan dirinya sebelum membukakan pintu.
Azan ashar terdengar dari mesjid dekat rumah. Pintu dibuka dan aku dapati pamanku yang tadi mengajak adikku jalan-jalan berdiri kaku di luar. Heran aku melihatnya. Ia seperti orang yang kebingungan. Matanya menunjukan kalau dia juga sedang ketakutan. Hanya saja aku tak peduli. Langsung saja aku persilahkan pamanku itu masuk rumah.
“Masuklah Om, Uja mau sholat dulu ya…” aku berlalu kedalam rumah sampai akhirnya aku berhenti melangkah karena pamanku itu ternyata masih mematung di mulut pintu.
“Kenapa Om? Masuklah.” Keningku berkerut. Kenapa ini orang? Lagipula, mana adikku? Kenapa dia pulang sendirian dan sebegitu ketakutannya sampai tak sanggup masuk rumah? Belum sempat aku tanyakan pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba dia berbalik dan berlari keluar menuju motornya yang terpakir di depan rumah. Aku sontak menyusulnya keluar namun sesampai di teras Ia sudah berlalu. Aneh?
“Siapa tadi Ja?” Tanya Mama yang baru terbangun.
“Si Om Ma, gak tau mau ngapain tadi langsung pulang.”
“Si Fauzan?”
Aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu dan menggeleng.
Jam lima sore aku membantu Mama menyiangi bayam buat makan malam. Mama yang juga sedang memasak mengangkat telepon dari adikku. Beliau terlihat begitu heran saat menyerahkan hape itu padaku.
“Uja bilang tadi Om datang?” tanyanya. Aku tak menjawab karena aku juga bingung.
“Hallo, Jan tadi Lu kemari sama Om?”
“enggak Nja? Kita dari tadi di Mall Cinere.”
“jam empat tadi pas azan Ashar?”
Terdengar dari ujung telepon sana adikku memberitahu pertanyaanku pada si Om di sampingnya dan terdengar juga samar-samar bahwa mereka saling keheranan.
“Kita dari siang Nja di Lebak Bulus terus ke Cinere. Salah orang kali Bonkja?” adikku memastikan dan terang saja otomatis membuat bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba saja kedua tangan jadi dingin.
Pernah juga beberapa kali saat sendirian di rumah dan biasanya di jam-jam tidur siang, aku mengalami apa yang disebut orang ‘ditindihin jin’. Dari namanya sudah kebayang seremnya dan memang serem. Yang paling serem adalah saat aku sedang malas-malasan di tempat tidur di siang bolong. Aku sedang sms-an dengan seorang teman. Sambil menunggu balasan aku tidur-tidur ayam menghadap ke pintu kamar yang terbuka sedikit. Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang masuk kamar padahal aku sendiri saja di rumah. Si pintu terlihat seperti bergeser tapi akhirnya aku mendapati pintu itu tetap di posisi sebelumnya. Dan tau-tau aku kembali merasakan seperti ada yang menaiki tempat tidur namun aku tak melihat apa-apa. Rasanya seperti bila kau sedang tiduran di spring bed mu dan kau lekatkan kuping ke permukaan kasur terus seseorang, bisa temanmu bisa istrimu, menaiki kasur. Bunyi per yang tertekan di dalam terdengar sekali dan bagaimana kasur itu bergerak turun tertindih akan terasa jelas kan? Nah seperti itulah yang aku alami.
Mahluk itu, apapun itu, terasa seperti menaiki kasur dari arah kaki ku lalu berbaring di belakang punggungku. Saking takutnya aku sampai tak bisa bergerak. Panik sejadi-jadinya dan yang membuatku semakin panik adalah, sekonyong-konyong aku didekap dari belakang. Bukan dicekik tapi seperti dicengkeram dengan kuat. Aku kalap. Berusaha teriak tapi suaraku selalu kembali tertelan. Meronta melawan tak berguna. Mahluk itu terlalu kuat. Tahu gini harusnya aku ikut les gulat.
Penyiksaan itu berlangsung mungkin sekitar setengah menit sampai saat hape ku berdering keras sekali. Kiranya ada sms masuk dan sms itu menyelamatkan ku. Si pegulat tak kasat mata di belakangku seperti hilang begitu saja meninggalkan aku yang keletihan dan keringat bercucuran. Kurang ajar betul ! Beraninya main belakang !! Pelajaran moral yang ku dapat dari kejadian-kejadian itu adalah jangan sering-sering kau tidur siang karena setan, hantu, mahluk halus, atau jin ifrit juga sangat benci sama pemalas.
Adikku yang pertama juga pernah didatangi tamu jadi-jadian. Suatu malam dia terbangun oleh ketukan dari orang di luar. Kiranya itu Papa. Agak kaget juga dia mengetahui Papa yang seharusnya di kampung tahu-tahu pulang tanpa bilang-bilang. Papa pun dipersilahkan masuk dan dibuatkan secangkir teh lalu adikku minta izin ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Katanya sih saat itu si Papa agak pendiam. Hampir persis seperti yang aku alami. Paginya adikku tak mendapati si Papa di rumah. Kami yang lain juga tak melihatnya dari pagi. Kami bahkan tak tahu kalau tadi malam beliau pulang. Adikku didera panik karena cangkir tehnya masih di atas meja, belum diminum sedikitpun, dan pintupun terbuka begitu saja semalaman. Adikku lupa menguncinya lagi tadi malam. Untungnya tak ada satupun barang yang hilang. Saat dikonfirmasi ternyata Papa masih di kampung dan tak kemana-mana semalaman. Nah lo !
Ibuku pun pernah mengalami hal-hal mistis seperti itu di rumah kami. Pernah beliau dan (lagi-lagi) adikku mendengar suara tangisan dari rumah sebelah. Adikku yang memang agak selon sudah mau mencari sumber suara saja ke rumah sebelah namun Mama melarangnya. Paginya ditanyakan ke tetangga kami yang tinggal di sebelah rumah kami tersebut tapi dia malah mengira ada yang nangis di rumah kami semalam.
Suara aneh-aneh dari tembok rumah sebelah ini pun muncul lagi menghantui Papa dan Mama yang sedang tidur di kamar. Mereka tahu kalau tetangga kami itu sedang tak ada di rumah dan rumah mereka kosong, jadi ini pasti ulah si hantu mencari perhatian. Mama ku ketakutan tapi Papa tidak. Beliau malah menendang tembok itu sambil marah-marah dalam bahasa Minang.
“Eh manga (ngapain) Ang (Elu) ganggu-ganggu kami. Diamlah ! Kami kan ndak ado (gak ada) manggaduah (mengganggu) kalian !!”
Dan ajaib suara itu pun berhenti. Ehm..pasti si hantu juga berasal dari Minang Kabau, sekampung dengan kami.
Sepertinya, memang rumahku (mungkin) yang agak angker. Salah seorang pamanku yang lain yang saat itu ikut membangun rumah ini bercerita pernah melihat seorang wanita berpakaian serba putih duduk di atas pohon depan rumah kami yang sekarang sudah tak ada karena sudah ditebang. Cerita yang satu itu agak sulit dipercaya berhubung si empunya cerita memang orang yang suka cari sensasi.
Namun sekarang sudah tak pernah lagi kejadian yang aneh-aneh di rumah kami. Tampaknya si hantu sudah mau berbagi tempat dengan kami atau malah sudah minggat? Cerita serem terakhir paling saat aku dan teman-temanku berkumpul di depan TV. Tiba-tiba saat sedang ngobrol salah seorang teman terkejut. Dia bilang dia merasa seperti baru saja ada yang membelai punggungnya padahal tak ada siapa-siapa di belakangnya. Mungkin saja hantunya adalah seorang wanita penggemar punggung pria-pria tampan seperti aku dan temanku itu. Hehehe…
Nah bila sudah mengalami kejadian-kejadian itu bagaimana aku harus bertindak? Aku tak mampu menemukan penjelasan ilmiah apapun untuk menerangkan fenomena-fenomena tersebut. Namun yah biarlah begitu. Aku tak harus ambil pusing dan ketakutan berlebihan. Karena sesungguhnya dari pada dunia lain itu, dunia dan kehidupan nyata di dalamnya juga tak kalah menyeramkan dan bahkan lebih kejam. Aku pernah bergulat dengan hantu, tapi tak pernah sesakit saat aku dihina hanya karena tak punya laptop.

Minggu, 21 Maret 2010

Bersantai di Pantai


Bisa dibilang aku ini penggemar pantai. Siapa juga yang tak suka pantai? Orang mungkin akan tertawa karena mungkin aku jarang ke pantai tapi percayalah, itu semua bukan karena sok sibuk tapi lebih karena masalah financial. Beneran deh, cuma karena duit dikit jadi jarang ke pantai, ih..beneran sumpah. Masa gak percaya banget sih, emang aku segitu tampang kaya-nya apa sampai situ gak percaya gitu? (sewot…)
Aku paling seneng dengan pasir putih bersih disenggol-senggol ombak yang makin kesana makin tinggi saja gulungannya. Sering aku jadi sumringah dengan gradasi warna laut yang dari biru muda, turquoise, sampai makin dalam makin pekat birunya. Apalagi kalau langit lagi cerah-cerahnya dan dari kejauhan ada segerombolan burung-burung pantai terbang melintas dengan sombongnya, akan ajaib sekali momen itu. Pokoknya aku senang sekali bersantai di pantai dan yang paling ajaib tentu saja sunsetnya. Saat-saat mempersilahkan matahari mohon pamit itu benar-benar mendebarkan. Sunset di pantai yang terindah ya tentu saja sunsetnya pantai Kuta. Sewaktu KKL ke Bali kami (Alhamdulilah..) sempat mampir di pantai Kuta sore-sore. Saat teman-teman yang lain main air di laut, berbelanja, atau ngecengin bule, aku malah cuma duduk-duduk ngeliatin matahari tenggelam di laut dan tak ada yang nolongin. Kuta memang melegenda keindahannya cuma sayangnya memang agak sedikit kotor itu pantai, mungkin karena sudah menjadi tujuan wisata berskala internaisonal sejak dulu.

Kalau mau pantai yang agak sepi silahkan ke pantai Tiku di pesisir Sumatera Barat. Kalau bisa pakai motor kesana jadi bisa berburu pantai yang bener-bener sepi. Kita jadi bisa merasa seakan-akan ini pantai milik kita sendiri. Yang unik dari pantai di daerah Tiku, paling tidak menurutku, adalah pantai ini berpagarkan pohon pinus. Setahuku sih pantai di daerah tropis itu akrab dengan pohon-pohon kelapa. Sewaktu memasuki daerah pantai kami memang disambut sama kebun kelapa, tapi makin mendekati bibir pantai nongollah barisan pohon pinus yang tak habis-habis sejauh mata memandang. Pantai dan lautnya juga masih bersih karena memang tak seramai dan seterkenal Kuta. Disana kita juga bisa nontonin matahari tenggelam dan tak ada yang menolong sambil makan sate Pariaman yang gurih racikan ajo-ajo (penjual sate Padang).

Selain di Tiku, aku juga pernah nyaksiin sunset di pantai Padang. Indah memang tapi tak terlalu berkesan. Terlalu ramai mungkin sama warga kota yang juga mau menyambut malam minggu. Yang paling berkesan dari pantai-pantai di Sumbar adalah aroma asap sate Padang yang lalu-lalang di udara pantai. Baunya semerbak bikin perut terus saja keroncongan walau baru saja makan.
Pantai yang melegenda juga ada tak jauh dari pusat kota yakni Pantai Aia Manih (Air Manis). Kita langsung disambut dengan legenda Malin Kundang setiba disana. Disana teronggok bebatuan yang bila diperhatikan lebih seksama terlihat seperti sebuah kapal pecah lengkap dengan tali temalinya. Tak jauh dari kapal batu itu teronggok juga sebuah batu menyerupai manusia yang sedang bersujud. Kiranya itulah dia Malin Kundang si Anak Durhaka. Masyarakat sekitar percaya kalau itu adalah sisa-sisa kutukan terhadap Malin yang durhaka karena tak mau mengakui ibunya sendiri. Aku memang tak percaya 100% Cuma ya aku juga tak berusaha mencari tahu kebenaran dari batu-batu itu apa memang asli dari sananya atau cuma hasil pahatan untuk mendongkrak pariwisata. Tak pentinglah, itu malah cuma bikin rusak acara jalan-jalanku saja.
Aku yang waktu itu masih kecil dengan cueknya berjalan kebelakang si Malin dan menendang pantatnya lalu duduk-duduk diatas punggungnya. “Rasakan itu Malin ! Makanya jangan sembarangan sama orang tua ! Untung tak dikutuknya kau jadi jamban !!”
Belum lama ini aku juga merambah pantai Pelabuhan Ratu. Cuma berhubung pergi bersama keluarga jadi kurang leluasa, maunya sih sampai sore disitu sambil ngerujak. Yang paling dekat ya jelas pantai Ancol. Kesini sih cukup sering. Baik sama keluarga atau sama teman-teman. Pengen sih kesana sama pacar tapi kapan yah…??
Pantai yang juga lumayan asik dan deket dari Jakarta ya tak lain tak bukan, Pantai Anyer. Aku sempat juga kesana sambil mengunjungi rumah temanku di Cilegon. Lumayan serulah di Anyer, cuma sayangnya tak jadi naik banana boat gara-gara kelamaan kompromi.
Satu lagi pantai yang sebenarnya dekat tapi koq bisa-bisanya aku belum pernah kesana, yakni Pelabuhan Sunda Kelapa. Meski bukan berupa pantai pasir putih konvensional, aku penasaran sangat ingin lihat-lihat komplek pelabuhan dengan bangunan-bangunan tuanya yang bernilai sejarah tinggi serta kapal dan perahu-perahu di kampung nelayan.
Belum lama ini aku sama beberapa temanku, Neno dan Aki merencanakan buat jalan-jalan sekelas ke Pantai Pangandaran dengan Green Canyonya liburan nanti. Satu hal yang ingin aku lakukan disana adalah berenang di laut. Selama ini kalau ke pantai ya cuma duduk-duduk atau kalau pun ke lautnya cuma main air saja. Membosankan ! Semoga saja rencana ini dapat dukungan penuh dari teman-teman, amin !
Oiya, aku akhirnya selesai juga membaca Naked Traveler karya Trinity. Disana diceritakan dia pernah bertanya ke seorang Italia apakah pernah ke Indonesia. Si Italia bilang dia pernah selama dua minggu di Pulau Cubadak. Trinity pun sontak kaget. Koq bisa-bisanya ke Indonesia Cuma dua minggu tapi gak ke Bali atau Jakarta? Dia lalu mencari tahu pulau Cubadak yang terkenal di luar negeri tapi asing di negeri sendiri. Kiranya pulau itu ada di Sumatera Barat (lagi-lagi, hehe…). Eh tadi pagi aku nonton Celebrity On Vacation, si Thalita Latief lagi jalan-jalan ke Sumbar. Dia keliling-keliling Bukit Tinggi, Off Road-an di Ngarai Sianyok, nonton Pacu Jawi (balap sapi) di Batu Sangkar, dan leyeh-leyeh di Pulau Cubadak. Cukup naik speedboat dari pantai Carocok. Ternyata pantainya memang wah ! Masih sangat asri dan sepi. Cuma hanya ada beberapa bungalow saja selebihnya hutan perawan dan lautan tenang dengan ombak bersekala ringan. Indah, bersih, dan tenang. Jadi pengen juga kesana. Cuma sayangnya pemilik resor disana adalah orang Italia dan kebanyakan tamunya bule. Yang menyambut dari bibir pantai saja orang bule. Sudah bisa diprediksi pasti berbudget mahal akomodasi disana. Hupf…lagi-lagi masalah klasik, DUIT !!
Tadi pagi aku juga nonton Jelajah yang menampilkan sebuah pantai karang yang keren banget di Jogja. Aku lupa namanya. Disana banyak nelayan darat yang berburu lobster sama bulu babi waktu air laut surut. Harus kesana juga nih. Ada juga tebing-tebing karang menjulang mirip di pantai Tanah Lot. Aku juga pernah kesana lho waktu KKL. Tanah Lot selayaknya Kuta, keindahanya yang melegenda itu ternyata nyata. Waktu itu kami juga ber sunset ria sambil menyaksikan upacara agama Hindu di pura di atas batu karang.
Tapi untuk dalam waktu dekat ini sebaiknya berkonsentrasi dengan rencana besar ke Pangandaran dan Kayaking di Green Canyon. Aku sampai tak bisa tidur dibuat rencana itu. Hehehe..berlebihan memang.

Bercermin di Ancol


Hari telah larut senja di Ancol saat kami duduk-duduk berkumpul di atas jembatan kayu itu. Tadi sore kami berleyeh-leyeh di pantai yang bertaburkan pasir bangunan. Benar-benar bukan ide bagus untuk menguruk tepian laut dengan pasir kasar yang tak sedap dipandang itu hanya untuk memperluas pantai, yah sekali lagi memang untuk alasan ekonomis. Air laut pun ikut menghitam dibuatnya. Namun tetap saja dasar orang udik aku semangat untuk salto dalam air (berhubung tak bisa salto di luar air..).
Aku dan teman-teman sekelas senang sekali mengamalkan salah satu ajaran kaum hedonis, jalan-jalan. Kami yang bermotor ke kampus membentuk kumpulan tak formal yang selalu mengagendakan traveling dalam kota dadakan. Beberapa dari manusia-manusia itu menamai perkumpulan ini, The Compromers. Nama itu kami ambil saat baru bertemu Engglish Grammar class, makanya bahasanya bisa kacau begitu (harusnya 'The Compromisers' kan...?). kenapa The Compromers? Jelas karena sering bahkan di detik kami menyalakan mesin motor kami masih tak tahu mau kemana. Akan lebih lama waktu yang dipakai untuk berkompromi menentukan tujuan dari pada perjalanannya itu sendiri. Padahal semuanya seakaan terlihat sudah siap. Seorang dosen lupa untuk mengabari ketidakhadirannya dan kami sekelas jadi terbengkalai di kampus. Tak rela diperlakukan seperti itu kami memutuskan untuk jalan-jalan. Motor-motor sudah siap dan uang saku sudah bisa dibilang cukup. Hanya saja kami belum tahu mau kemana. Setengah jam berlalu dan kami mungkin masih berdebat perihal tujuan perjalanan untuk hari itu. Satu jam terlewat dan masih belum keluar keputusan. Dua jam sudah tak terasa dan beberapa dari kami ada yang ijin kebelakang mau pipis. Dan akhirnya diputuskan kami hanya akan mengikuti kemana kaki melangkah dan setang motor berbelok.
Kali ini kami jalan-jalan ke Pantai Ancol. Pantainya saja dulu, Dufannya bisa menyusul kalau kantong mengizinkan. Tak banyak yang dapat dilakukan disana. Kami hanya leyeh-leyeh, makan rujak, main air (bukan berenang), fata-foto, pijat refleksi, dan shalat lima waktu.
Matahari sudah permisi pulang dan angin laut dari daratan mulai bertiup-tiup aggressive. Kami makin kedinginan dengan baju basah yang melekat karna main air sore tadi di laut. Ini juga akibat fatal jalan-jalan dadakan, masa iya tidak bawa baju ganti ke pantai? Sama saja seperti shalat pakai celana pendek.
Entah ide siapa sehingga kami saling menulis pendapat pribadi tentang semua teman kami yang ada saat itu. Pendapat-pendapat itu ditulis di kertas selembar, ehm…robekan kertas tepatnya dan inilah yang aku dapat…

Uja itu…

Menurut si A
• Pendiem
• Gila kadang-kadang
• Weird
• Suka tercium bau-bau aneh dari badannya he…he…
• Tatapan matanya tajam (Menusuk Gw !!)
• Senyumnya manis banget
• Cool, good listener
• Baek, sometime nyebelin (SMS gw bales napa! Gw nunggu tau !!)

Menurut si B
• Sumber awet muda gw !! Gila !
• LO punya stok banyolan berapa banyak !!
• Kalo gw bete, tinggal deket-deket Lo, gw Hepi…badut ! he !
• Jangan ngebut yah…
• Yang gw suka dari lo..waktu lo bela-belain ke Ciledug..lumayan usaha…
• Keep caio !

Menurut si C
• Bae
• Luchu ?
• Punya sesuatu yang besar dibalik senyumnya
• Kalo bawa motor ati-ati ya…
• Lumayan modis walaupun sedikit anak mami

Menurut si D
• Seseorang yang kurang pendiriannya
• Untuk nolong orang masih menghitung utung rugi
• Namun, penuh tanggung jawab
• That’s all

Menurut si E
Ja sebenarnya gw iri sama Lw, coz Lw tuh keliatan gak punya masalah & selalu happy. Lw orangnya…bae, cupu, smart, & always happy, dah segitu aja

Menurut si F
• Kocak
• Gila (dalam arti yang sebenarnya)
• Menyenangkan
• Jail
• Gak jelas & senang bgt nyebut dirinya ganteng (???)
• Tp dibalik itu semua, dy punya masalah yang beratz deh tapi dy gak mo sharing…
• Mudah-mudahan bisa berubah..

Mereka dinamai A,B,C,..dan seterusnya bukan karena orang tuannya tak kreatif menamai anak, tapi karena memang demi menjaga pemilu yang jurdil, kami merahasiakan nama-nama yang memberi pendapat. Yah, walaupun aku bisa saja tebak-tebak buah manggis siapa kiranya yang menulis ini dan yang menulis itu, diterka dari tulisantangannya. Tapi bukan itu yang terpenting. Pendapat-pendapat ini bagaikan cermin buat ku. Aku jadi tahu ternyata begini aku ditengah-tengah mereka karena memang kadang kita berniat lain tapi keluarnya lain atau ditangkap lain oleh orang.
Lucu-lucu pendapat mereka tentang diriku. Ada yang nyindir, kritik pedas, gertak sambal, kurang asin, atau asem manis. Ada yang main fisik bahkan ada yang terang-terangan ngajak berantem…hehe, ya gak ada lah. Seru!. Dan ternyata aku ini dianggap gila dan menyenangkan. Yang negative ada juga. Dianggap pendiem dan tertutup, tak mau cerita-cerita kalau ada masalah.ehm…ada juga yang bilang ‘cupu’. Waduh Ki, itu mah memang bawaan dari lahir. Sekali culun yah tetap culun. Tak bisa dibasuh-basuh…
Tapi itu pendapat-pendapat mereka di awal-awal masa kuliah. Kira-kira sekarang begaimana yah pendapat kalian tentang saya? Pasti sudah banyak yang berubah pikiran yah karena makin lama makin ketahuan belangnya (Memangnya saya bangsa harimau punya belang??). Walau pulangnya aku digigitin nyamuk pelabuhan yang segede tawon dan bentolnya baru hilang setelah dibalsemin seminggu, aku saat itu senang sekali mendapat teman-teman baru karena sudah agak bosan main dengan teman-teman lama yang dari SMA. Hehehe…PISS !